Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Karya Sastra

28.8.15 0
Di dalam karya sastra mengandung nilai-nilai kehidupan yang dapat diambil dari peran masing-masing tokoh dalam karya sastra tersebut. Nilai-nilai tersebut antara lain:

a. Nilai moral: berhubungan dengan perilaku dan pembentukan akhlak;
b. Nilai sosial: berhubungan dengan hubungan antar manusia dalam lingkungan tertentu;
c. Nilai budaya: berhubungan dengan kebiasaan, adat istidat, dan pola pikir masyaraka tertentu;
d. Nilai agama: berhubungan dengan norma-norma agama;
e, Nilai psikologi: berhubungan dengan kondisi kejiwaan/batin tokoh-tokohnya; serta
f. nilai pendidikan: berhubungan dengan perilaku baik, dewasa, bermanfaat, dapat memilah baik dan buruk.

Perhatikan kutipan cerpen berikut ini!


...

     "Aku ada uang lima ribu. "Wati menyodorkan selembar lima ribuan kepada Sri. "Pakailah."
     Sri terkejut. Ia pandangi wajah Wati dan uang yang berada di tangannya bergantian. Ia yakin tetangganya dari kampung itu juga sedang membutuhkan uang. Suami Wati baru saja sakit. Pasti belum bisa menarik becak seperti suaminya. Apalagi saat ia teringat dengan pesan suaminya.

     "Jangan, Mbak. Pasti Mbak Wati juga membutuhkannya. Insya Allah saya masih bisa bertahan sampai bapaknya Dian pulang."

     "Aku percaya kalian masih bisa bertahan. Tapi bagaimana dengan Dian? Dia sudah begitu kurus. Dia bisa sakit Sri. Kalau sampai itu terjadi pasti biayanya akan lebih mahal. Aku yakin kamu juga tidak tahu kapan suamimu pulang.

     Sri mendesah. Ibu mana yang tega anaknya sampai kekurangan gizi. Ia pun sebenarnya iba melihat nasib Dian. Ditatapnya wajah Dian yang begitu tenang. Sbutir cairan bening mengumpul memenuhi sudut-sudut matanya.

Nilai kehidupan yang dapat diperoleh dari kutipan cerpen di atas adalah nilai sosial, karena berhubungan dengan antarmanusia. Tokoh bernama Wati mencoba untuk menolong tokoh bernama Sri. Wati tidak tega terhadap Dian, anak Sri yang terus menangis karena kelaparan.

Sumber:
Buku LKS: Bahasa Indonesia Kelas XII (Zamrud SMK/MAK-Semester 1 dan 2 Sesuai KTSP).

Menggunakan Kata bukan ... melainkan ... dan Kata yang pada Klausa Relatif.

28.8.15 0

1. Menggunakan Kata bukan ... melainkan ...


Pasangan kata bukan ... melainkan ... berfungsi mempertegas pada kalimat pengingkaran. Perhatikan kalimat-kalimat berikut:
a. Anak itu bukan penyayi, melainkan penari.
b. Bapak ini bukan pelit, melainkan harus hidup hemat.
c. Dia bukan memberi, melainkan meminjamkan alat itu.
d. Beliau bukan marah, melainkan mendidik kita agar tegas menjadi dewasa.
e. Bu Rahma bukan menghina, melainkan memberikan masukan.

2. Menggunakan Kata yang pada Klausa Relatif


Klausa relatif adalah klausa terikat yang diawali oleh pronomina relatif yang. Untuk lebih jelasnya, perhatikan penggunaan kata yang pada kalimat-kalimat berikut!
a. Aku sudah mendapat ide tentang laporan yang kubuat.
b. Ia mempunyai cara menyamar paling baik yang pernah kulihat.
c. Buku bahasa Indonesia, yang baru dibeli adik, bagus isinya.
d. Istrinya, yang datang bersama dengan dia itu, seorang insinyur.

Kata yang pada kalimat a dan b merupakan keterangan tambahan yang bersifat membatasi. Adapun kata yang kalimat c dan d merupakan keterangan tambahan yang bersifat tidak membatasi. Keterangan tambahan yang bersifat membatasi tidak dipisahkan dengan tanda koma (,) dari nomina yang diterangkannya, sedangkan yang bersifat tidak membatasi ditulis diantara tanda koma.

Sumber:
Suharma, dkk. 2006. Bahasa dan Sastra Indonesia SMP Kelas VIII. Bogor: Yudhistira.

Arti Komplikasi

26.8.15 0
Komplikasi
Selamat, (*sesuai waktu sobat di mana pun berada) :)

Begini, sobat mungkin pernah ataupun sering mendengar bahwa seseorang dirawat karena menderita penyakit dan komplikasi gitu. Kata komplikasi (bahasa Inggrisnya: complication) berarti 'kumpulan situasi' atau 'kumpulan detail karakter bagian utama alur cerita'.

Di bidang kedokteran, komplikasi diartikan sebagai penyakit sekunder yang merupakan perkembangan dari penyakit primer' atau 'kondisi sekunder yang merupakan perkembangan dari kondisi primer', Aduhh! ribet amat.

Jadi begini sobat, aduh gimana ya saya bingung juga, misalnya penyakit primer A berkembang menjadi penyakit sekunder B dan C. Kedua penyakit terakhir itulah yang disebut komplikasi. Atau jika mau ambil simplenya, penyakit baru yang timbul di saat penyakit lama belum sembuh.

Komplikasi juga dapat berupa 'kumpulan faktor atau kumpulan isu yang sering tidak diharapkan, yang dapat mengubah rencana, metode, atau sikap.

Ini ada contohnya:
Komplikasi penyebab kerusuhan itu mengakibatkan rencana penyelesaian sering menemui jalan buntu.

Jadi, arti komplikasi itu sendiri tergantung konteksnya di mana kata tersebut digunakan.

Sumber:
Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, disusun: Hizair MA.
Buk Praktis Bahasa Indonesia 2, Pusat Bahasa.



Tindak Tutur Langsung dan Tindak Tutur Tidak Langsung (Pragmatik)

25.8.15 0
Tindak Tutur Langsung dan Tindak Tutur Tidak Langsung
Ehh,eh kamu ganteng deh.
Secara formal, berdasarkan modusnya, kalimat dibedakan menjadi kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif). Wijana dan Rohmadi (2011:28) mengemukakan bahwa secara konvensional kalimat berita digunakan untuk memberikan suatu (informasi), kalimat tanya untuk menanyakan sesuatu, dan kalimat perintah untuk menyatakan perintah, ajakan, permintaan, atau permohonan.

Bila kalimat berita difungsikan secara konvesional untuk mengatakan sesuatu, kalimat tanya untuk bertanya, dan kalimat perintah untuk menyuruh, mengajak, memohon dan sebagainya tindak tutur yang terbentuk adalah tindak tutur langsung (direct speech act).

Secara sederhana dapat didefenisikan bahwa tindak tutur langsung adalah tindak tutur yang mana pemakaian kalimat atau ujarannya sesuai dengan fungsinya secara konvensional. Sementara itu, jika kalimat yang digunakan tidak sejalan lagi dengan fungsinya secara konvensional, maka itu disebut tindak tutur tidak langsung.

Beberapa contoh kalimat:
(1) Bersihkan kamarmu!
(2) Apa tidak malu jika nanti temanmu datang ke kamar?
(3) Biasanya kamar anak perempuan selalu bersih.
Tindak Tutur Langsung dan Tindak Tutur Tidak Langsung
kamu ngertiin aku dong!

Ketiga kalimat tersebut pada dasarnya memiliki makna yang sama yaitu menyuruh lawan tutur untuk membersihkan kamarnya. Secara konvensional, makna ‘menyuruh’ adalah fungsi dari kalimat imperatif, maka kalimat (1) dikatakan tindak tutur langsung karena dalam menyampaikan maksudnya, penutur langsung menggunakan kalimat perintah atau imperatif (diakhiri dengan tanda seru). Sementara itu, kalimat (2) dan (3) adalah contoh dari tindak tutur tidak langsung. Dalam menyampaikan maksud untuk ‘menyuruh’, penutur tidak menggunakan kalimat imperatif melainkan kalimat interogatif dan deklaratif. Pada kalimat (2) penutur tidak hanya sekedar bertanya tetapi secara tidak langsung juga memerintah lawan tutur untuk membersihkan kamar. Kalimat (3) juga bukan sekedar untuk memberi informasi saja, tetapi secara tidak langsung juga menyindir dan memerintah lawan tutur.

Jika dilihat dari tanggapan lawan tutur, tuturan yang diutarakan secara tidak langsung biasanya tidak dapat dijawab secara langsung tetapi harus segera dilaksanakan maksud yang terimplikasi di dalamnya. Kalimat (2) dan (3) akan terasa janggal jika tanggapan dari lawan tutur hanya berupa jawaban tanpa diserta tindakan dari maksud yang disampaikan. Dalam hal ini, kalimat imperatif yang fungsinya memerintah tidak dapat digunakan pada tuturan tidak langsung. Hal itu dikarenan biasanya tindak tutur tidak langsung  bermaksud menyuruh atau memerintah, sementara fungsi kalimat imperatif secara konvensional memang memerintah.

Sumber:
Wijana, I Dewa Putu dan Muhammad Rohmadi. 2011. Analisis Wacana Pragmatik Kajian Teori dan Analisis. Surakarta: Yuma Pustaka.
Dan berbagai sumber penunjang baik dari buku, jurnal, maupun internet.

Kapas dan Permaisuri

20.8.15 1
Pada rindu, raung bersandar ketika hening.
Mengelupas kita tinggi ketinggian; tebar bertebaran; dan sayup.
Pada awan, Adinda rebah dan kapas menguap hening.
Suara dari langit memecah awan senja, dan redup.

Pada bulan rebahan padamu atau lari hening keheningan.
Terang lampu neon, dan di mata juga kapas, juga Adinda.
Dan di mana senja terakhir kita lihat?
Itu jadi rahasia antara kapas dan permaisuri,
dalam nestapa tinggi ketinggian dan hening keheningan.

Karya: Riko Febrianto
Lubuklinggau, 01 Februari 2015.

Kapas dan Permasuri
Terbang Menikmati Indahnya Alam

Pada Kekasih

27.6.15 0
Pada kekasih,
gelisah sayapmu menyuruk ke awan.
Hadirmu cukuplah fitrah,
dari fasih sampai terdidik.

Terkadang sebab pekat hati.
Kekasih menangis; kekasih surgawi.

Pada awan, hati berpagut.
Senantiasa berselisih dalam bayang-bayang; mencari sepi
dari kegamangan angin,
bertiup memeluk awan.

Terkadang sebab selalu enyah,
dan berpura.
Kau lupa, dan aku luka hati.
Pada kekasih.

Lubuklinggau, 14 Mei 2015
Karya : Riko Febrianto


Makalah Media Pembelajaran (Belajar dan Pembelajaran)

27.6.15 0
Media Pembelajaran
Pembelajaran pada dasarnya merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dengan menggunakan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan salah satu bentuk bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses transfer ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap (moral) dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Pembelajaran yang  maksimal akan bermuara pada keberhasilan pencapaian target belajar. Proses pembelajaran akan berjalan maksimal apabila ditunjang oleh motivasi belajar siswa dan kreatifitas pengajar. Pengajar yang memiliki kreatifitas tinggi akan selalu berusaha membuat proses pembelajaran menjadi menarik bagi siswanya dengan menggunakan berbagai cara, salah satunya penggunaan media pembelajaran.

Pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan minat dan keinginan yang baru, motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu, sehingga yang menjadi target dari pembelajaran bisa tercapai secara maksimal.

Adapun rumusan masalah yang akan dijawab dalam makalah ini, antara lain:
1.   Apakah yang dimaksud dengan media pembelajaran?
2.   Apakah fungsi media pembelajaran dalam proses belajar dan pembelajaran?
3.   Apa sajakah macam-macam media pembelajaran?
4.   Bagaimana prinsip-prinsip pemilihan media pembelajaran?
5.   Apa sajakah faktor yang mempengaruhi pemilihan media pembelajaran?

***PEMBAHASAN***

A. Pengertian Media Pembelajaran

Media secara etimologis berasal dari bahasa Latin medio atau medius yang merupakan bentuk jamak dari kata medium yang berarti pengantar, atau perantara. Sedangkan dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Secara khusus, media dapat diartikan sebagai alat atau sarana komunikasi yang digunakan sebagai perantara atau pengantar pesan yang berisi informasi dari sumber ke penerima pesan.

Dikaitkan dengan pembelajaran, media dimaknai sebagai alat komunikasi yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk membawa informasi berupa materi ajar dari pengajar kepada peserta didik sehingga peserta didik menjadi lebih teratik untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Satu hal yang perlu diingat bahwa peranan media tidak akan terlihat apabila penggunaannya tidak sejalan denga isi dan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Secanggih apa pun media tersebut, tidak dapat dikatakan menunjang pembelajaran apabila keberadaannya menyimpang dari isi dan tujuan pembelajarannya.

Sadiman (1984:6) media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Menurut Gerlach dan Ely (1971), media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Sehingga guru, buku teks dan lingkungan sekolah marupakan media.
Fleming (1987: 234) menyatakan media berfungsi untuk mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak yaitu siswa dan isi pelajaran.
Latuheru (1988:14), menyatakan bahwa media pembelajaran adalah bahan, alat, atau teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna. 

Berdasarkan definisi tersebut, media pembelajaran memiliki manfaat yang besar dalam memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran. Media pembelajaran yang digunakan harus dapat menarik perhatian siswa pada kegiatan belajar mengajar dan lebih merangsang kegiatan belajar siswa. Media pembelajaran adalah media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran menurut Gagne dan Briggs (1975). Media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran yang terdiri dari buku, tape recorder, kaset, video kamera, video recorder, film, slide (gambar), foto, gambar, grafik, televisi dan komputer. Hainich, dkk (1982) dalam Media Pembelajaran (Arsyad, 2002:4) mengemukakan istilah medium sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima. Kesimpulannya, media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima. Sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, maka dapat ditarik garis besar dari pengertian media pembelajaran ialah segala bahan, alat, metode ataupun teknik yang digunakan untuk menyampaikan informasi dari sumber (guru) ke penerima informasi (siswa) selama proses pembelajaran sehingga dicapai proses pembelajaran yang lebih bermutu.


B. Fungsi Media Pembelajaran

Terdapat dua fungsi utama media pembelajaran, pertama media adalah sebagai alat bantu pembelajaran, dan fungsi kedua adalah sebagai media sumber belajar. Kedua fungsi utama tersebut dapat ditelaah dalam ulasan di bawah ini.

1. Media Pembelajaran sebagai Alat Bantu dalam Pembelajaran

Tentunya kita tahu bahwa setiap materi ajar memiliki tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada satu sisi ada materi ajar yang tidak memerlukan alat bantu, tetapi di lain pihak ada materi ajar yang sangat memerlukan alat bantu berupa media pembelajaran. Media pembelajaran yang dimaksud antara lain berupa globe, grafik, gambar, dan sebagainya. Materi ajar dengan tingkat kesukaran yang tinggi tentu sukar dipahami oleh siswa. Tanpa bantuan media, maka materi ajar menjadi sukar dicerna dan dipahami oleh setiap siswa. Hal ini akan semakin terasa apabila materi ajar tersebut abstrak dan rumit/kompleks. Sebagai alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pembelajaran. Hal ini dilandasi keyakinan bahwa kegiatan pembelajaran dengan bantuan media mempertinggi kualitas kegiatan belajar siswa dalam tenggang waktu yang cukup lama. Itu berarti, kegiatan belajar siswa dengan bantuan media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik daripada tanpa bantuan media.

2. Media Pembelajaran sebagai Sumber Belajar

Sekarang Anda menelaah media sebagai sumber belajar. Sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat bahan pembelajaran untuk belajar peserta didik tersebut berasal. Sumber belajar dapat dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu manusia, buku perpustakaan, media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan. Media pendidikan, sebagai salah satu sumber belajar, ikut membantu guru dalam memudahkan tercapainya pemahaman materi ajar oleh siswa, serta dapat memperkaya wawasan siswa.

Adapun mengapa media pembelajaran yang tepat dapat membawa keberhasilan belajar dan mengajar di kelas, menurut Levie dan Lentz (1982) dalam Media Pembelajaran (Arsyad, 2002:4), itu karena media pembelajaran khususnya media visual memiliki empat fungsi yaitu :

1.    Fungsi atensi, yaitu dapat menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi dan pelajaran.

2.    Fungsi afektif, yaitu dapat menggugah emosi dan sikap siswa.

3.    Fungsi kognitif, yaitu memperlancar tujuan untuk memahami dan mengingat informasi/pesan yang terkandung dalam gambar.

4.    Fungsi compensations, yaitu dapat mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau secara verbal.

Alasan-alasan mengapa media pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa yaitu: Alasan yang pertama yaitu berkenaan dengan menfaat media pengajaran itu sendiri, antara lain: 1) Pengajaran lebih menarik perhatian siswa, sehingga menumbuhkan motivasi belajar. 2) Bahan pengajaran lebih jelas maknanya, sehingga dapat menguasai tujuan pembelajaran dengan baik. 3) Metode pengajaran akan bervariasi. 4) Siswa dapat lebih banyak melakukan aktivitas belajar, seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain. Alasan kedua yaitu sesuai dengan taraf berpikir siswa. Dimulai dari taraf berfikir konkret menuju abstrak, dimulai dari yang sederhana menuju berfikir yang kompleks. Sebab dengan adanya media pengajaran hal-hal yang abstrak dapat dikonkretkan, dan hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan.


C. Macam-Macam Media Pembelajaran

Media pembelajaran banyak jenis dan macamnya. Dari yang paling sederhana dan murah hingga yang canggih dan mahal. Ada yang dapat dibuat oleh guru sendiri dan ada yang diproduksi pabrik. Ada yang sudah tersedia di lingkungan untuk langsung dimanfaatkan dan ada yang sengaja dirancang. Berbagai sudut pandang untuk menggolongkan jenis-jenis media.

Anderson (1976) menggolongkan menjadi 10 media:
No
Golongan Media
Contoh dalam Pembelajaran
1
Audio
Kaset audio, siaran radio, CD, telepon
2
Cetak
Buku pelajaran, modul, leaflet, gambar
3
Audio-cetak
Kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis
4
Proyeksi visual diam
Over Head Transparasi (OHT), film bingkai
5
Proyeksi audio visual diam
Film bingkai bersuara
6
Visual gerak
Film bisu
7
Audio visual gerak
Film gerak bersuara, video/VCD, televisi
8
Obyek fisik
Benda nyata, model, specimen
9
Manusia dan lingkungan
Guru, pustakawan, dan laboran
10
Komputer
CAI (Computer Assisted Instructional = Pembelajaran berbantuan komputer),
CMI (Computer Managed Instructuional)

Dalam perkembangannya, media pembelajaran mengikuti perkembangan teknologi. Teknologi yang paling tua yang dimanfaatkan dalam proses belajar adalah percetakan yang bekerja atas dasar prinsip mekanis. Kemudian teknologi audio-visual yang menggabungkan penemuan mekanik dan elektronik untuk tujuan pengajaran. Teknologi yang muncul terakhir adalah teknologi mikroprocessor yang melahirkan pemakaian komputer dan kegiatan interaktif. Berdasarkan perkembangan teknologi tersebut Seels dan Richey (1994) dalam (Arsyad, 2009:29) mengelompokkan media pembelajaran ke dalam empat bagian, yaitu:

1. Media Hasil Teknologi Cetak (Print Technologies)

Teknologi cetak adalah cara untuk menghasilkan atau menyampaikan materi, seperti buku dan materi visual statis terutama melalui proses percetakan mekanis atau photografis. Kelompok media hasil teknologi cetak antara lain: teks, grafik, foto atau representasi fotografik. 

Karakteristik media hasil cetak:
a.  Teks dibaca secara linear
b.  Menampilkan komunikasi secara satu arah daan reseptif
c.  Ditampilkan secara statis atau diam
d.  Pengembangannya sanga tergatung kepada prinsip-prinsip pembahasan
e.  Berorientasi atau berpusat pada siswa
f.  Informasi dapat diatur atau ditata ulang oleh pemakai

2. Media Hasil Teknologi Audio Visual (Audio-Visual Technologies)

Teknologi audi-visual cara  menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan mesin-mesin mekanis dan elektronis untuk menyajikan pesanpesan audio-visual. 

Karakteristik:
a.   Bersifat linear
b.   Menyajikan visual yang dinamis
c.   Digunakan dengan cara yang telah ditentukan sebelumnya oeh perancang
d.   Merupakan representasi fisik dari gagasan real atau abstrak
e.   Dikembangkan menurut prinsip psikologis behaviorisme atau kognitif
f.   Berorientasi pada guru


3. Media Hasil Teknologi Komputer (Computer-Based Technologies)

Media yang dihasilkan dari penggunaan sumber-sumber yang berbasis mikro-processor. Media yang dihasilkan dari teknologi ini disimpan dalam bentuk data digital bukan dalam bentuk cetakan atau visual.

Karakteristik media hasil teknologi yang berdasarkan komputer:
a.   Dapat digunakan secara acak, non-sekuensial atau secara linear
b.   Dapat digunakan sesuai keinginan siswa atau perancang
c.   Gagasan disajikan dalam gaya abstrak dengan simbol dan grafik
d.   Prinsip-prinsip ilmu kognitif untuk mengembangkan media ini
f.   Berorientasi pada siswa dan melibatkan interaktifitas siswa yang tinggi
4. Media Hasil Gabungan Teknologi Cetak dan Komputer (Intergrated Technologies)

Media yang dihasilkan dari gabungan pemakaian beberapa produk media yang dikendalikan oleh komputer. Karakteristik:
a.   Dapat digunakan secara acak, sekuensial dan linear.
b.   Dapat digunakan sesuai keinginan siswa, bukan saja dengan direncanakan dan diinginkan oleh perancangnya.
c.   Gagasan disajikan secara realistik sesuai dengan pengalaman siswa, menurut apa yang relevan dengan siswa dan di bawah pengendalian siswa.
d.   Prinsip ilmu kognitif dan konstruktivisme ditetapkan dalam pengembangan dan penggunaan pelajaran.
e.   Pembelajaran ditata dan terpusat pada lingkup kognitif sehingga pengetahuan dikuasai jika menggunakan pembelajaran tersebut.
f.   Banyak melibatkan interaktivitas siswa.
g.  Bahan-bahan pembelajaran memadukan kata dan visual dari berbagai sumber.


D. Prinsip-Prinsip Pemilihan Media Pembelajaran

Setiap media pembelajaran memiliki keunggulan masing-masing, maka dari itulah guru diharapkan dapat memilih media yang sesuai dengan kebutuhan atau tujuan pembelajaran. Dengan harapan bahwa penggunaan media akan mempercepat dan mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran. Drs. Sudirman N. (1991) membagi prinsip-prinsip pemilihan media pembelajaran yang dibaginya ke dalam tiga kategori, sebagai berikut:

1. Harus Ada Kejelasan Tentang Maksud dan Tujuan Pendidikan Pemilihan Media Pembelajaran

Apakah pemilihan media itu untuk pembelajaran, untuk informasi yang bersifat umum, ataukah sekedar hiburan saja mengisi waktu kosong. Lebih khusus lagi, apakah untuk pembelajaran kelompok atau individu, apakah sasarannya siswa TK, SD, SLTP, SMU, atau siswa pada Sekolah Dasar Luar Biasa, masyarakat pedesaan ataukah masyarakat perkotaan. Dapat pula tujuan tersebut akan menyangkut perbedaan warna, gerak atau suara. Misalnya proses kimia (farmasi), atau pembelajaran pembedahan (kedokteran).

2. Karakteristik Media Pembelajaran

Setiap media pembelajaran mempunyai karakteristik tertentu, baik dilihat dari keunggulannya, cara pembuatan maupun cara penggunaannya. Memahami karakteristik media pembelajaran merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki guru dalam kaitannya pemilihan media pembelajaran. Disamping itu memberikan kemungkinan pada guru untuk menggunakan berbagai media pembelajaran secara bervariasi.

3. Alternatif Pilihan

Yaitu adanya sejumlah media yang dapat dibandingkan atau dikompetisikan. Dengan demikian guru bisa menentukan pilihan media pembelajaran mana yang akan dipilih, jika terdapat beberapa media yang dapat dibandingkan.


E. Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Media Pembelajaran

Kriteria pemilihan media harus dipertimbangkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, kondisi dan keterbatasan yang ada dengan mengingat kemampuan dan sifat-sifat khasnya (karakteristik) media yang bersangkutan.

Professor Ely mengatakan bahwa pemilihan media tidak terlepas dari konteksnya bahwa media merupakan komponen dari sistem instruktional secara keseluruhan. Karena itu, meskipun tujuan dan isinya sudah diketahui, faktor-faktor lain seperti karakteristik siswa, strategi belajar mengajar, organisasi kelompok belajar, alokasi waktu dan sumber, serta prosedur penilaiannya juga perlu dipertimbangkan. Sebagai pendekatan praktis, ia menyarankan untuk mempertimbangkan media apa saja yang ada, berapa harganya, berapa lama diperlukan untuk mendapatkannya, dan format apa yang memenuhi selera pemakai.

Dalam hubungan ini Dick dan Carey (1978)  menyebutkan bahwa di samping kesesuaian dengan tujuan perilaku belajarnya, setidaknya ada empat faktor lagi yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media. Pertama adalah ketersediaan sumber setempat. Kedua adalah apakah untuk membeli atau memproduksi sendiri tersebut ada dananya. Ketiga adalah faktor yang menyangkut keluwesan, kepraktisan, dan ketahanan media yang bersangkutan untuk waktu yang lama. Artinya, media bisa digunakan dimanapun dengan peralatan yang ada disekitarnya dan kapanpun serta mudah dijinjing dan dipindahkan.

Sementara itu Kemp (1985) menunjukkan beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih suatu media untuk pembelajaran, antara lain:

1.  Appropriateness/kesesuaian. Media yang dipergunakan harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Misalnya, jika kita ingin siswa dapat membaca iklan tentang lowongan kerja, media yang sesuai adalah koran.

2.  Level of Sophistification. Ini mengacu pada kesesuaian media dengan tingkat kemampuan/level siswa. Sebagai contoh: ketika membeli kaset di toko, kita mungkin mendapat hasil rekaman yang baik dengan suara yang jelas; tetapi ternyata kaset tersebut isinya terlalu sulit dipahami oleh siswa. Jadi pemilihan kaset tersebut tidak memenuhi persaratan level dan diperlukan evaluasi.

3.  Cost/biaya. kita harus mempertimbangkan apakah media yang ingin dipergunakan membutuhkan biaya dapat dijangkau oleh kita sendiri atau sekolah. Meskipun peralatan tersebut kemudian dibeli oleh sekolah, apakah biaya tersebut sebanding dengan keuntungan yang dapat diperoleh dari pembelajaran dengan media tersebut.

4.   Availibility/ketersediaan. Faktor keempat ini adalah tentang apakah media tersebut tersedia. Bila tiak, tentunya kita akan mencari alternatif-alternatif lain.

5.  Technical Quality/kualitas teknis peralatan. Faktor kualitas teknis mengacu pada suatu kenyataan bahwa ketika memilih suatu media, media yang dipilih tersebut haruslah berkualitas baik. Suara yang tidak jelas dari rekaman yang tidak berkualitas hanya akan menghancurkan efektifitas media yang digunakan yang sebelumnya diharapkan dapat menyajikan banyak stimuli.


Makalah Media Pembelajaran


Sumber Buku:

Arsyad, Azhar. 2007. Media Pembelajaran.  Jakarta :  Raja Grafindo Persada.
Harjanto. 1997.  Perncanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Sadiman, Arif, dkk. 2002. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana.

Makalah Pembawa Acara/MC (Master of Ceremonies)

25.6.15 0
Makalah Pembawa Acara/MC (Master of Ceremonies)

Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti sudah pernah mengikuti suatu acara baik acara itu resmi ataupun tidak resmi. Dalam suatu acara terdapat seseorang yang bertugas untuk mengatur jalannya acara yaitu seorang MC (Master of Ceremonial) atau pembawa acara yang tiak dapat dipisahkan dari suatu acara. Bayangkan saja suatu acara yang tidak adanya pembawa acara, maka tidak akan sukses suatu acara. Master of ceremony atau pembawa acara merupakan suatu profesi, untuk itu seorang pembawa acara dituntut untuk professional. Karena profesi Pembawa Acara atau MC sangat berpengaruh dengan jalannya suatu acara. Dimana seorang MC harus mampu membaca situasi, menciptakan suasana sesuai dengan karakter acaranya, yang memungkinkan adanya dialog dengan audience.

Selain adanya MC, dalam suatu acara yang resmi terdapat protokol, yaitu tata acara, khususnya acara resmi, seperti acara kenegaraan atau melibatkan pejabat negara, pengaturan keseluruhan kegiatan dari awal hingga akhir. Pada makalah ini akan dibahas mengenai MC atau pembawa acara.


**PEMBAHASAN**

A. Pengertian Pembawa Acara

Pembawa acara sangat berperan penting dalam menunjang kesuksesan suatu acara. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu acara adalah kepiawaian bicara dari si pembawa acara dalam menyampaikan acara adalah protocol, moderator (MC), juga presenter, DJ (disk jocky) yaitu penyiar lengkap, dan lain-lain.

MC kependekan dari Master of Ceremony, artinya “penguasa acara, pemandua acara, pengendali acara, pembawa acara, pengatur acara, atau pemimpin upacara”. MC bertindak selaku “tuan rumah” (host) suatu acara ayau kegiatan/pertunjukan. MC berperan mengumumkan susunan acara dan memperkenalkan orang yang akan tampil mengisi acara. MC pula yang bertanggung jawab memastikan acara berlangsung lancar dan tepat waktu, serta meriah atau khidmat dari awal hingga akhir.

Tantra Wisanggeni (2011: 51) menyimpulkan bahwa pembawa acara adalah orang yang membawakan narasi atau informasi dalam suatu acara atau kegiatan, biasanya bertugas memandu acara dan bertanggung jawab atas lancar dan suksenya acara. Seorang MC harus mampu membaca situasi, menciptakan suasana sesuai dengan karakteristik acaranya, dan memungkinkan adanya dialog dengan audience. Acara yang dibawakan adalah acara-acara hiburan yang menuntut kreativitas dan improvisasi yang akan menciptakan karakteristik acara sesuai dengan jenis acaranya.

B. Tugas dan Peran MC/Pembawa Acara

Tugas utama seorang MC adalah mengatur susunan atau jalannya acara agar acara tersebut bisa berjalan dengan baik dan tersusun sistematis. Dalam kegiatan yang di acarakan, selalu ada orang yang bertugas memberitahu dan mengatur pelaksanaan setiap mata acara. Pergantian dari satu mata acara ke mata acara berikutnya selalu mengikuti perintahnya. Orang-orang yang terlibat dalam setiap mata acara itu pun selalu mematuhinya. Lancar dan tidaknya suatu acara sangat bergantung kepadanya.

1.      Seorang MC harus memastikan acara berjalan dengan lancar dan tepat waktu.
2.      Mengumumkan acara atau susunan acara yang akan berjalan.
3.      Harus paham benar keseluruhan acara yang akan berlangsung.
4.      Menarik perhatian hadirin untuk mengikuti jalnnya acara dari awal hingga akhir.
5.      Menyusun acara dengan baik dan berkoordinasi dengan panitia.
6.      Mengecek pengeras suara (mike) atau sound system agar berfungsi dengan baik.
7.      Mengecek kesiapan acara dan kehadiran orang-orang penting yang akan tampil dan hadir.
8.      Berkonsentrasi menyimak detail jalannya acara.
9.      Mengendalikan waktu agar acara berjalan sesuai dengan alokasi waktu yang sudah ditetapkan.
10.    Mengenalkan pembicara (introducing of the speaker) atau mengisi acar sebelum mereka tampil dipodium dan pengartar materi yang akan disampaikannya.

11.  MC adalah orang pertama dan satu-satunya orang yang berhak membuka acara atau berbicara secara "resmi" kepada hadirin, jangan lupa karena MC adalah orang pertama yang berbicara dalam suatu acara, maka MC harus memperkenalkan diri sendiri kepada hadirin.

C. Syarat Menjadi MC/Pembawa Acara

Sebagai seorang MC, dia harus bisa menarik perhatian hadirin untuk segera merasa terlibat dalam pertemuan itu. Kalau upaya ini gagal, jalannya acara menjadi hambar, tidak berkesan dan mengecewakan. Sebaliknya bila pembawa acara pandai menguasai dan menghibur hadirin, maka acara tersebut menjadi lancar dan menyenangkan. Dengan demikian kesuksesan sebuah acara berada di tangan MC.

Berikut ini adalah beberapa persyaratan utama yang harus dimiliki oleh seorang Master of Ceremony:
1.      Pengetahuan dan pengalaman luas
2.      Cerdas
3.      Rasa Humor
4.      Sabar
5.      Imajinasi
6.      Antusiasme
7.      Rendah hati dan bersahabat
8.      Kemampuan bekerjasama

D. Tips Menjadi MC/Pembawa Acara Profesional

Berikut ini adalah beberapa tips yang menarik dan bermutu bagi yang baru mau mencoba jadi MC atau belum terlalu menguasai profesi ini, yakni:

1.      Kenali peranmu
Peran seorang MC adalah untuk mempertahankan sebuah acara agar berjalan lancar, mempertahankan energi para peserta/penonton agar semangat, membantu para peserta agar merasa disambut dengan baik dan membuat para pembicara/pengisi acara merasa dihargai, dan masih banyak lagi. Jadi, tidak hanya untuk memberikan informasi ataupun sebagai timekeeper saja.

2.      Kenali kelompok-kelompok peserta
Maksudnya adalah menyambut para penonton/peserta yang tidak berasal dari daerah tempat acara berlangsung. MC harus memastikan bahwa semua penonton adalah sama, tidak memberikan perlakuan khusus pada mereka yang merupakan "tuan rumah".

3.      Ringkaslah apa yang dikatakan oleh pembicara
Poin ini penting untuk diperhatikan. Jadi setiap seorang pembicara selesai bicara, MC harus bisa mengambil intisari dari apa yang dibicarakan oleh pembicara tersebut, atau setidaknya bagian penting dari isinya, untuk disampaikan kepada penonton/MC Service.

4.      Pertahankan waktu yang ditentukan
Dalam sebuah acara, tidak dipungkiri bakal ada alokasi waktu yang kurang sesuai dengan rundown acara, mungkin itu mundur atau terlalu cepat. Untuk itulah MC (training mc) harus bisa mengatur agar waktu tetap berjalan sesuai dengan rundown.

5.      Buat penonton bersemangat
Kadangkala pada suatu acara pasti ada penonton yang merasa bosan atau mengantuk karena isinya kurang menarik.

6.      Jangan bicara terlalu cepat, ucapkan setiap kata dengan intonasi yang jelas (training MC).

7.      Usahakan untuk rileks, jika gugup tarik nafas yang panjang dan dalam kemudian bergeraklah untuk melemaskan otot.

8.      Buat catatan kecil untuk membantu mengingat apa yang akan dikatakan, boleh jadi itu joke, cerita atau memberikan informasi.



Sumber Buku:

Aryati, Lies. 2007. Panduan untuk menjadi MC Professional. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Wisanggeni, Tantra. 2011. Cara Instan Jago MC dan Berpidato dalam Bahasa Indonesia. Yogyakarta: Pinang Merah Publisher.

Yasin, Sulchan. 1991. MC (Pembawa Acara dan Contoh Pidato). Surabaya: Mekar Surabaya.